It’s Sharon Corr. Not Sharon “The Corrs”

Saya memang bukan orang media sih. Sejak saya keluar dari Radio Ardan Bandung tahun 2011 kemarin, saya jadi 100% orang kantoran yang kerjaannya ngurusin sales dan marketing, nggak ada hubungannya sama media. Tapi, saya tetep kesel setiap kali saya nemuin pemberitaan yang di “make-up” dengan hal-hal yang nggak berdasarkan fakta, terutama kalo dilakuinnya sama media yang punya nama besar, apalagi kalau hal tersebut berkaitan dengan artis idola saya (saya ngaku deh, saya kadang bisa jadi groupies sejati yang bisa niat banget jemput idola saya di airport). Continue reading

Hujan Sore

Sore ini hujan. Untukku, hujan di sore hari tidak sama dengan hujan-hujan lain.

Banyak sekali memoriku dengan nenekku yang terbentuk di kala hujan sore. Kami berbincang tentang segala hal, menghirup aroma tanah yang basah di teras rumah sambil ditemani secangkir kopi untuk beliau dan segelas susu vanilla hangat untukku. Mulai dari cerita lucu yang membuat perut sakit karena terpingkal, sampai semua tumpahan emosiku yang berakhir dengan senggukan reda di pelukan beliau. Sejak beliau tidak ada, ntah sudah berapa banyak hujan sore yang turun. Dan setiap hujan sore selalu mengingatkanku pada beliau. Terutama sore seperti ini. Disaat aku berada pada titik terendahku. Merasa tidak dimengerti, ingin meledak, ingin bicara pada seseorang yang benar-benar bisa mengerti aku, ingin dipeluk,ingin ditenangkan. Ingin beliau ada di sisiku.

Mungkin hanya sugestiku atau hanya imajinasiku yang senang bermain dengan hujan. Setiap hujan sore, ntah mengapa, aku selalu percaya beliau ikut turun bersama air-air yang membasahi bumi. Turun di teras rumahku kemudian duduk di sampingku, menemaniku, mendengarkan semua keluh kesahku, membiarkan aku menangis sampai akhirnya tangisku reda dengan sendirinya. Bagiku, hujan sore berbeda dengan hujan-hujan lainnya. Namun, semua hujan sore selalu sama. Sewaktu beliau masih ada, ataupun sekarang setelah beliau sudah tiada. Hanya satu hal yang berbeda. Dulu aku perlu pelukan beliau untuk menenangkanku, sekarang aku harus bisa menenangkan diriku sendiri tanpa pelukan beliau. Tetapi, memori bersama beliau di setiap hujan soreku dulu, adalah bentuk lain dari pelukan beliau yang kasat mata. Maybe she no longer can hug me like she used to do, but memories about her hug me to replace her presence.

“You can’t see their smile or bring them food or tousle their hair or move them around a dance floor. but when those senses weaken, another heightens. Memory. Memory becomes your partner. You nurture it. You hold it. You dance with it.”

– Marguerite

Never Wanna Wake Up From This Night, Never Wanna Leave This Moment…

Kopi di mug merahnya sudah tak panas lagi. Tak juga hangat. Dingin. Sama seperti udara malam di sekitarnya. Setiap hembusan angin yang mengenai kulitnya membuatnya sedikit bergidik lalu kembali membiarkan pikirannya melayang-layang.

Lagu The Hardest Day yang dinyanyikan oleh The Corrs dan Alejandro Sanz terputar dari laptopnya membuat ia makin menghilang dari realita.Pikirannya tersangkut pada malam kemarin. Ketika orang yang sudah lama menghilang dari hidupnya tiba-tiba muncul di Yahoo Messenger. Iseng ia mengarahkan kursor ke arah nama lelaki itu lalu mengklik namanya, kemudian mengetik:

“Hai!”

Selang beberapa menit, tak ada balasan. Tepat ketika ia akan menutup kotak dialognya, sebuah balasan muncul:

“Hai juga”

Sedikit senyum muncul di wajahnya dan dengan semangat mengetik:

“Apa kabar?”

Kali ini balasannya datang lebih cepat dari sebelumnya:

“Baik.”
“Sudah dua watt”

Kali ini ia ragu membalasnya. Sepertinya lelaki itu sedang tidak ingin diganggu. Jawabannya pendek. ‘Sudah dua watt’ berarti dia sudah mengantuk.

“Ya tidur atuh :)”

Langsung ia mengarahkan kursor ke pojok kiri kotak dialog untuk menutup dialog mereka. Namun, beberapa detik kemudian, muncul kotak dialog baru. Dia.

“Nanti atuh. Masih ada kamu yang ngajak ngobrol.”

Lelaki itu masih ber-aku-kamu. Ia mencoba menahan senyum tapi tak kuasa. Lalu kembali membalas:

“Hehe, dasar… Cuma mau nanya kabar aja kok.”

Kali ini lelaki di seberang sana membalas cepat:

“Aku sehat-sehat saja.”
“Kamu gimana?”
“Baik-baik aja sama pacarnya?”

Kini ia senang. Lelaki itu mulai membalas YMnya sama panjangnya seperti dulu ketika lelaki itu menjadi salah satu pengindah hari, pengusir mendung, dan pewarna hidupnya. Ia tidak sedikitpun berpindah ke pekerjaannya yang belum beres malam itu. Ia terpaku pada layar laptop yang memunculkan dialog antara ia dan lelaki yang pernah spesial itu.

Tanpa terasa, hari berganti dan mulai menunjuk angka dua. Kali ini matanya yang sudah makin meredup. Obrolan ini sudah harus diakhiri. Bukan karena ia tak kuasa menahan kantuk, tapi ia teringat akan tugas yang belum terselesaikan. Dengan cepat ia mengetik:

“Aku away from keyboard ya…”
“Mau lanjutin baca artikel…”
“Kamu bobo yaaa..”

Mukanya tiba-tiba memerah. Mengingat dulu biasanya lelaki di seberang sana yang menyuruhnya tidur. Namun, mukanya bertambah merah ketika muncul balasan:

“Oke…”
“Nite babe…”

Dua kata terakhir yang di kirim si lelaki sontak membuatnya tak ingin tidur dan tak ingin pula mengakhiri malam kemarin.

Never wanna wake up from this night. Never wanna leave this moment.

Chorus lagu itu membangunkannya dari lamuanan tentang malam kemarin membuatnya tersadar bahwa mungkin memang masih ada sedikit lelaki itu di dalam hatinya. Tapi toh memang sudah tidak akan berlanjut. Lelaki di sana akan segera menempuh hidup baru. Dan memang tidak akan pernah ada apapun diantara mereka. Keputusan tidak bersama memang sudah diambil sebelum mereka pernah bersama. Tetapi, masa-masa sebelum itu adalah pewarna hari yang sangat sempurna baginya.

P.S. Jangan terlalu lama terhanyut oleh YM kemarin malam. Ayo kembali ke realita, perempuan pemilik mug merah…

Dan Kamu Untuk Sekian Kalinya Muncul

Kalau aku pikir, aku memang gila.

Gila karena kamu yang selalu muncul tepat di saat aku yakin aku bebas dari kamu.

Kamu muncul setelah aku bersama seseorang. Dan ntah bagaimana caranya meyakinkanku bahwa hatiku masih ada bersamamu.

Kamu muncul tiba-tiba setahun setelah pertemuan terakhir kita. Lalu membuatku nyaris gila karena setelah itu aku memikirkanmu setiap detik.

Kamu muncul di jejaring sosial yang mempunyai timeline, dan aku menjadi teman pertamamu di sana. Aku tak mau gila dan aku pun mulai meninggalkan jejaring sosial itu.

Kamu muncul sepintas ketika teman koreaku pulang ke Korea. Dan, itu cukup menghapus mendung yang ada hanya dengan beberapa pesan singkat darimu yang sampai di HPku.

Sudah sebulan ini aku tenang. Tidak mendekati gila. Aku hidup dalam kewarasanku. Tanpa ada suatu zat yang bernama ‘kamu’. Aku mulai menyukai seseorang. Mulai merasakan rasa senang menyukai seseorang.

Namun.

Lagi-lagi.

Tiba-tiba.

Tadi siang. Ada email notification yang masuk ke HPku. Subjectnya:

“(namamu) is now following you on twitter”

GILA!

Ntah siapa yang gila!

Ntah aku yang gila karena sebegitu tergila-gilanya padamu.

Ntah kamu yang gila karena setiap kehadiranmu walau hanya sekedar tampilan nama di layar HP adalah candu bagiku.

Ntah skenario yang dibuat Tuhan yang gila karena selalu memunculkan kamu di setiap timeline hidupku.

Ah, ntah.

Semoga kamu cepat menghilang dari otakku dan terganti ya… Aku butuh candu lain. Candu yang bisa mewaraskan aku dari kegilaanku terhadapmu.