6 Years and Still Counting

Menjadi tidak produktif hari ini sepertinya membawa dampak yang nggak terlalu buruk buat saya. Terbukti dengan munculnya tulisan ini di notes iPhone saya dan maybe a little bit later, akan mengisi page tumblr saya.

So, I really had nothing to do for these couple days (except on Saturday because I really wanted to support my friends in a cover dance competition, and I almost fainted) because I was sick. Sakit yang at the end mengharuskan saya berhenti total minum kopi dalam beberapa waktu ke depan. Damn it! Saya pasti nggak akan bisa nurut untuk hal yang satu ini. Come on! No coffee??!! Do you know that I have known that tempting black liquid since I was seven or eight or well, how old I was when I was in 3rd grade of elementary school? God. And these 4 days are pretty hard without its scent and taste in the morning. Oh Doctor, it is my booster!!!

Well, enough crankiness about coffee. Losing my morning coffee routine started it all. It made me think, “How could I start my day without my daily booster?” I tried to imagine it, and yes, saya memang terlalu berlebihan untuk masalah tidak-memulai-pagi-tanpa-kopi. Saya pasti bisa sih memulai hari saya tanpa kopi. Ini cuma masalah kebiasaan aja. Toh saya cuma kehilangan secangkir kopi di pagi hari, bukan kehilangan pacar (dan memang nggak punya) ataupun sahabat. Nah, gara-gara ini saya jadi bertanya-tanya lagi, “What would I be without my boosters? My crayons? My closest friends?”

Lalu saya flashback beberapa tahun lalu, sewaktu saya masih berambut keriting nggak jelas (kalau nggak mau dibilang kribo), berat badan 80kg, cuma punya kaos gede, celana jeans, dan jaket di dalam lemari, selalu pakai (dan cuma punya) converse karena nggak mau pakai sepatu cewe. Siapa yang pernah nyangka anak perempuan berumur 17 tahun itu bakalan kaya sekarang, perempuan berusia 23 tahun, nggak cantik-cantik amat, tapi beratnya udah nggak 80kg lagi, rambutnya udah lurus (kecuali setelah keramas) karena sudah mengerti teknologi yang bernama catokan, isi lemarinya nggak lagi cuma kaos, jeans, dan jaket, sekarang udah ditambah dress, blouse, cardigan, hot pants, tank top, dll, dan masih punya sepatu converse tapi jauuuuh lebih sering pakai sepatu cewe, dan udah bisa pake high heels. Kalau saya nggak ketemu sama sekelompok orang luar biasa yang nggak pernah ada capeknya ngurusin saya, I would not be like what I am right now. That’s indisputable.

Nggak kerasa enam tahun bareng sama mereka, berhasil membawa perubahan besar ke diri saya. Enam tahun yang luar biasa, enam tahun yang dipenuhi dengan debat, diskusi, berantem, saling support, bercanda nggak penting, habisin waktu di coffee shop sampai diusir karena mau tutup, dan above all enam tahun yang penuh kasih sayang. Mungkin agak jijik denger kata “kasih sayang”. Tapi, apa kata yang paling tepat untuk menjelaskan kesabaran orang-orang ini yang tetap selalu ada disamping saya setelah sekian banyak naik-turun yang terjadi selama enam tahun ini selain kata “sayang”?

Enam tahun ini, nggak pernah sedetikpun saya nggak merasa bersyukur karena memiliki mereka. Orang-orang yang menerima saya apa adanya, sabar perlahan-lahan masuk ke dalam benteng yang sudah bertahun-tahun saya bangun, membiasakan saya untuk bercerita ketika saya butuh bersuara, memeluk saya ketika saya runtuh, mendengarkan saya merajuk ketika saya manja, menampar saya jika saya berbuat salah, menggandeng tangan saya ketika saya takut melangkah, membangunkan saya ketika saya terjatuh, dan tidak pernah sekalipun meninggalkan saya dalam keadaan apapun. Dan itu semua membuat saya belajar untuk menjadi saya yang lebih baik, saya yang lebih peduli pada orang lain, saya yang bisa menyayangi diri saya lebih dari sebelumnya, membuat saya percaya, dan membuat saya menyayangi mereka.

Untuk semua hal yang terjadi selama enam tahun ini, I still cannot give something in return. Only thanks and thank you that I can give. I know that you know how much I cherish this friendship.

“The BFF Martini
If I could take a glass and make one special cocktail with the mixture of Thank You, You’re the Best, What Would I Be Without Our Endless Discussion and I Think I’ll Be Fine As Long As You’re Around . I would.
And I would hand over the glass to you. So you’d really know what I feel about our friendship.
It’s like the best cocktail ever. In hell, heaven, and on earth.
It really is.”
– Kristy Nelwan

And I’d hand over the glass to you: @shinanandana, @elisabethpauli, @gathoRT, @bejenk_a
Cheers for these amazing six years.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s