Never Wanna Wake Up From This Night, Never Wanna Leave This Moment…

Kopi di mug merahnya sudah tak panas lagi. Tak juga hangat. Dingin. Sama seperti udara malam di sekitarnya. Setiap hembusan angin yang mengenai kulitnya membuatnya sedikit bergidik lalu kembali membiarkan pikirannya melayang-layang.

Lagu The Hardest Day yang dinyanyikan oleh The Corrs dan Alejandro Sanz terputar dari laptopnya membuat ia makin menghilang dari realita.Pikirannya tersangkut pada malam kemarin. Ketika orang yang sudah lama menghilang dari hidupnya tiba-tiba muncul di Yahoo Messenger. Iseng ia mengarahkan kursor ke arah nama lelaki itu lalu mengklik namanya, kemudian mengetik:

“Hai!”

Selang beberapa menit, tak ada balasan. Tepat ketika ia akan menutup kotak dialognya, sebuah balasan muncul:

“Hai juga”

Sedikit senyum muncul di wajahnya dan dengan semangat mengetik:

“Apa kabar?”

Kali ini balasannya datang lebih cepat dari sebelumnya:

“Baik.”
“Sudah dua watt”

Kali ini ia ragu membalasnya. Sepertinya lelaki itu sedang tidak ingin diganggu. Jawabannya pendek. ‘Sudah dua watt’ berarti dia sudah mengantuk.

“Ya tidur atuh :)”

Langsung ia mengarahkan kursor ke pojok kiri kotak dialog untuk menutup dialog mereka. Namun, beberapa detik kemudian, muncul kotak dialog baru. Dia.

“Nanti atuh. Masih ada kamu yang ngajak ngobrol.”

Lelaki itu masih ber-aku-kamu. Ia mencoba menahan senyum tapi tak kuasa. Lalu kembali membalas:

“Hehe, dasar… Cuma mau nanya kabar aja kok.”

Kali ini lelaki di seberang sana membalas cepat:

“Aku sehat-sehat saja.”
“Kamu gimana?”
“Baik-baik aja sama pacarnya?”

Kini ia senang. Lelaki itu mulai membalas YMnya sama panjangnya seperti dulu ketika lelaki itu menjadi salah satu pengindah hari, pengusir mendung, dan pewarna hidupnya. Ia tidak sedikitpun berpindah ke pekerjaannya yang belum beres malam itu. Ia terpaku pada layar laptop yang memunculkan dialog antara ia dan lelaki yang pernah spesial itu.

Tanpa terasa, hari berganti dan mulai menunjuk angka dua. Kali ini matanya yang sudah makin meredup. Obrolan ini sudah harus diakhiri. Bukan karena ia tak kuasa menahan kantuk, tapi ia teringat akan tugas yang belum terselesaikan. Dengan cepat ia mengetik:

“Aku away from keyboard ya…”
“Mau lanjutin baca artikel…”
“Kamu bobo yaaa..”

Mukanya tiba-tiba memerah. Mengingat dulu biasanya lelaki di seberang sana yang menyuruhnya tidur. Namun, mukanya bertambah merah ketika muncul balasan:

“Oke…”
“Nite babe…”

Dua kata terakhir yang di kirim si lelaki sontak membuatnya tak ingin tidur dan tak ingin pula mengakhiri malam kemarin.

Never wanna wake up from this night. Never wanna leave this moment.

Chorus lagu itu membangunkannya dari lamuanan tentang malam kemarin membuatnya tersadar bahwa mungkin memang masih ada sedikit lelaki itu di dalam hatinya. Tapi toh memang sudah tidak akan berlanjut. Lelaki di sana akan segera menempuh hidup baru. Dan memang tidak akan pernah ada apapun diantara mereka. Keputusan tidak bersama memang sudah diambil sebelum mereka pernah bersama. Tetapi, masa-masa sebelum itu adalah pewarna hari yang sangat sempurna baginya.

P.S. Jangan terlalu lama terhanyut oleh YM kemarin malam. Ayo kembali ke realita, perempuan pemilik mug merah…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s