4716236061_ab6a30333d_z

Sebuah Cerita Tengah Malam

“Cinta tak harus memiliki… Siapa yang percaya sama kalimat itu?”

Si kacamata merah memecah hening malam itu. Perempuan tua dengan wajah bersahaja di ruangan itu memandang ke arah cucunya tak berkomentar, hanya tersenyum.

“Aku nggak percaya. Aku dulu nggak percaya…”

Si kacamata merah melanjutkan omongannya lalu terhenti sejenak, berdeham membersihkan tenggorokan, matanya sedikit menerawang tapi tak sedikitpun menoleh pada sang nenek, seperti berbicara pada tembok sedangkan neneknya tidak sedikitpun memalingkan wajah dari cucunya bahkan ketika si cucu masih belum melanjutkan kalimatnya. Setelah berdeham sekali lagi, ia melanjutkan.

“Ya, aku dulu nggak percaya. Buat aku, yang namanya jatuh cinta ya harus memiliki. Harus bisa menyentuh, harus bisa merasakan hangat tubuhnya, kulit beradu kulit, bibir dan bibir bersentuhan, saling memberi perhatian, ada racikan rasa cemburu ketika merasa tak diperhatikan ditambah ramuan posesif yang dicampur dengan sedikit rasa self-pity.”

Kali ini sang nenek mulai menggeser posisinya mendekati si cucu. Tertarik sekaligus menyadari cucunya bukan anak kecil lagi. Cucunya sedang bicara tentang cinta, setidaknya cinta dalam sudut pandangnya.

“Dulu umurku lima belas tahun waktu aku pertama kalinya yakin aku jatuh cinta. Ketika pada akhirnya aku tidak bisa bersama dia, aku bingung apa yang terjadi padaku. Aku menangis berhari-hari merasa menjadi yang paling malang di dunia karena aku tidak bisa bersama dia. Kemudian ada sedikit rasa marah dan sebuah pertanyaan, kenapa pada akhirnya dia memilih untuk tidak bersamaku? Lalu dilanjut dengan serangkaian doa yang mengharapkan hubungannya dengan pacarnya segera berakhir. Aku jahat.”

Si kacamata merah menggeser duduknya lebih merapat tembok dan melanjutkan ceracaunya.

“You can’t forget a person you love so much no matter how much you try to do it. It’s impossible unless you learn to love somebody else…”

Quote favorit si kacamata merah. Ia melafalkannya seakan sedang membaca teks saking hafalnya diluar kepala.

“Setelah empat tahun, aku jatuh cinta lagi. Kali ini pada orang yang berbeda. Dia bisa membuat aku melupakan yang lama dengan cara yang sangat misterius. Ntah mantra apa yang ia gunakan, sejak menyukainya aku benar-benar kehilangan hasrat pada lelaki yang aku suka sejak empat tahun yang lalu.”

Senyum masih terkembang di wajah sang nenek, namun kali ini matanya menyiratkan selidik, bertanya-tanya, siapa yang berhasil membuat cucunya jatuh cinta untuk kedua kalinya. Ia tak penasaran dengan yang lama, cucunya tak pernah berhenti meracau tentang yang lama selama empat tahun kebelakang, bahkan masih menyimpan fotonya. Tapi, siapa lelaki yang membuatnya jatuh cinta untuk kedua kalinya? Jarak antara si kacamata merah dan neneknya semakin sedikit.

“Mirisnya, pada akhirnya tetap tidak bersatu…”

Sang nenek bersiap untuk melihat awan hitam menggelayut di wajah cucunya. Tetapi kali ini perkiraannya salah. Si cucu malah tersenyum dan melanjutkan bercerita.

“Tapi, tak pernah ada sesal di sini. Tak ada self-pity yang mengganggu. Ntah kenapa, aku ikhlas. Kali ini, bukan rasa ingin memiliki… Apa ini cinta? Aku juga tak tahu. Aku menikmati setiap waktuku bersama dia, aku betah berlama-lama memperhatikan wajahnya walaupun tak sekalipun berani menatap langsung matanya karena nanti jantungku berdebar tidak karuan serasa hampir mau copot, tak pernah ada rasa terganggu sewaktu dulu ia intens menghubungi aku lewat layar yahoo messenger, terkadang aku mencari-cari alasan supaya bisa menemui dia hanya karena aku kangen melihat wajahnya dari dekat. Akhirnya, aku tak bisa bersama dia. Tapi, bukan marah yang aku rasa, bukan sedih yang dominan, tapi ikhlas…”

Ingin sekali sang nenek merengkuh si cucu yang belum selesai bercerita. Ia tidak menyangka, cucu perempuan paling bandel sekaligus paling cengeng yang ia miliki sekarang bisa berbicara seperti ini sambil tersenyum. Tapi diurungkan niatnya, cucunya sudah besar. Tingginya sudah bertambah berpuluh-puluh centi dibandingkan dulu sewaktu ia mengantar neneknya pergi dan menangis meraung-raung tidak berhenti karena takut tak bertemu lagi.

“Ikhlas… Itu yang dominan… Aneh bukan? Kalau dulu, aku berdoa supaya yang aku sukai segera putus dengan pacarnya, kali ini aku meminta pada Tuhan: aku hanya ingin bisa lebih mengenal dia, lebih dekat dengan dia, dan bisa selalu ada bersama dia jika dia membutuhkan aku. Sebagai teman. Aku tidak akan meminta lebih. Dengan begitu, ntah kenapa, aku percaya aku akan bahagia. Aku tak perlu memiliki dia untuk menjadi bahagia. Aku kira aku akan menangis tidak berhenti seperti empat tahun kemarin. Tapi, aku salah.”

Sang nenek mengangguk mengiyakan, ia tidak bisa menyangkal, ia pun tadi mengira cucunya akan menangis lagi kali ini.

“Aku lega… Aku ikhlas… Dan aku sadar satu hal. Logika kali ini tidak berjalan. Aku tidak menemukan alasan kenapa aku bisa seikhlas ini. Kali ini aku hanya mengikuti apa yang dikatakan hati… Dan kali ini pilihanku untuk mengikuti hatiku ternyata benar… Semua ini membuatku percaya, cinta memang tidak harus memiliki. Aneh bukan? Lebih jauh lagi, aku semakin yakin cinta itu bukan self-pity untuk dijadikan alasan menangis bertahun-tahun karena tidak bisa bersama dengan seseorang, cinta bukan possessiveness untuk dijadikan alasan membuat seseorang dilabeli ‘this person belongs to me’, bukan pula rasa untuk mengumumkan ‘ini punya saya. jangan disentuh apalagi digoda!’ cinta itu tidak sedangkal yang selama ini aku kira.”

Si kacamata merah terdiam sejenak lalu tersenyum lagi. Kali ini senyumnya lebih seperti menertawakan diri sendiri.

“Ah, aku ini bicara apa? Aku memang tidak tahu banyak tentang cinta. Mungkin juga ini bukan cinta, bukan? Mungkin cuma rasa suka, rasa penasaran, atau mungkin sayang? Ah, Aku tidak mengerti. Lebih baik aku tidur.”

Ia beranjak dari tempat ia duduk, mematikan lampu kamar, menghampiri tempat tidur, menarik selimut, kemudian menghadap tembok.

“Tembok, kamu jangan bosen-bosen denger cerita aku ya…”

Ia menutup mata dan mencoba tidur.

Sang nenek, masih tersenyum sambil duduk ditepi ranjang cucunya. Cucunya bicara dengan tembok. Bukan pertama kalinya ia melihat hal itu. Sejak ia pergi sepuluh tahun yang lalu, sesekali ia diam-diam mengunjungi cucunya bahkan sampai cucunya pun tak menyadari keberadaannya di sana. Mendengarkan racauan cucunya sampai si cucu lelah dan tertidur. Tapi si cucu tak pernah sekalipun bercerita lagi padanya seperti dulu, si cucu lebih suka bercerita dengan tembok. Dielusnya rambut sang cucu, sedikit kecupan di dahi lalu ia beranjak dari tempat tidur, sedikit demi sedikit sosoknya menjadi bayangan dan menghilang. Kunjungan ke kamar cucunya sudah berakhir, ia harus kembali ke tempatnya, dunianya di sana…

Dear Mr. Give-Up-Easily,…

You’ve given up, haven’t you? You finally chose to stop chasing me, didn’t you? Then, why do you have to be care about my life? You didn’t have to say that to your closest person, did you? Then why did you say that?

You know what, Mr. Give-Up-Easily? Now, I’m totally sure that all you can do is just talking. Theories. You said you like me but that was all you never tried to make me like you. You told your closest person that I’m beautiful and you thought I’d look nicer if I stop smoking but that was all, you didn’t even say that to me. You just care about yourself. You’re just too afraid to be hurt someday. You don’t wanna take any risk nor consequences.

Yep. You’re just Mr. Give-Up-Easily. You’re not my Mr. Right. I knew that

In Love With Musicians

Recently, I don’t know why, I easily have a crush to musicians. So far, in 1 month interval, I like 3 different musicians!! Huih!!

Awalnya pas lagi googling tentang artis-artis korea, aku ga sengaja nemu situs firetilizernya orang ini. Soalnya dia kerjaannya nge-mixing lagu-lagu korea gitu. Dan hasilnya bagus banget!! And I fell in love with his latest mix: ADIOS 2009! Yes! He is Carlos aka DJ Masa!! He’s a DJ from Brazil! Jangan bayangin muka dia seperti Ronaldinho atau Ronaldo atau Cafu! Dia gantengnya seperti Kaka!!! Huiiihh!!! Umur dia baru 21 tahun, cuma beda satu tahun sama umur aku, cuy!! Asiiik! Emang jodoh kali yaaaa? Hwehehehe. Interest dia: Music, Photography, Cinema. Aiiihh, suka suka suka!! Dan dia kuliah tentang Jurnalisme!! Huwaaaaaaahh!! JURNALISME!! Suka banget deh aku!!! Kalo dia ke Indonesia, aku mau banget deh ketemu ama dia, nge-date sama dia! (You wish, Jeng!)

Itu tadi DJ Masa yang ga sengaja ketemu pas aku googling (jodoh mah ga lari kemana). Nah, udah gitu, aku jatuh cinta sama seorang pianis asal Korea yang ternyata nge-follow twitter aku. Namanya Yoon Ha Hwang. Jadi, waktu aku lagi nge-cek followers aku yang jumlahnya 800-an (ceritanya nyombong. tapi dipikir-pikir 800 kan ga banyak yak?), aku nemu account dia nih. Terus pas diliat namanya, hmmm, kok sepertinya nama-nama korea nih?? Klik ah profilnya. Eh, di profil dia ada channel youtubenya! Yaudah, aku iseng-iseng aja nih buka channel youtube dia, terus pas banget ada lagu Run Devil Run yang lagi aku suka banget. Uih! Suka banget lagu Run Devil Run bisa dimainin di piano, terus, terus, terus, yang lebih kaget lagi waktu pas liat video-video dia yang lagi, ternyata ada lagu Boom Boom Pow nya Black Eyed Peas! DIMAININ PAKE PIANO LAH!!!! Aku kira lagu kaya gitu ga bisa dimainin di piano!! Huhuhu, jadi jatuh cinta. Lebih jatuh cinta lagi pas aku udah liat foto dia yang ternyata GANTENG!!! Aiiihh >.<

Udah suka DJ, udah suka Pianis, ternyata ga cukup. Sejak pertama denger lagunya Owl City yang Fire Flies, aku udah jatuh cinta sama lagu itu. Tapi, aku sama sekali nggak mau liat video klipnya soalnya takut ilfeel. Habisnya biasanya kalo udah suka sama lagunya, terus liat video klipnya jadi ga suka gitu kalo video klipnya ga memuaskan. Sampai akhirnysa, suatu hari, aku lagi iseng banget, nggak ada kerjaan, jadi buka-buka youtube dan iseng nge-search video klip Fire Flies. Pas udah nonton jadi SUKA! Hahahaha, Adam Young ternyata ganteng juga yaaa? Hihihi (ketawa centil). Udah lagunya, enak, yang nyanyinya ganteng. Aduh, jadi makin jatuh cinta sama musisi deh kan!!!

But above all. Yang paling aku suka bukan mereka kok. Ada sih satu lagi. Nggak terkenal. Aku nggak tau dia bisa main alat musik atau nggak. Kalo dia nyanyi juga nggak gitu bagus kok suaranya. Tapi suka aja sama dia. Hehehehe. Udah ah! Jadi dangdut gini aku!! Zzzzzzzzzz. Syalalalalaalallalaa

IMG_0680

Curhat di Radio

Cuma pas lagi tidur aja kamu ga kepikiran dia? Ya iya, kalo tidur kan kamu nggak mikir. Jadi ga kepikiran dia. Coba kalo tidur kamu mikir, pasti tetep kepikiran dia.

Kristy Nelwan, curhatan yang diperdengarkan di radio PPI dunia!

Ah, sudah 3 tahun lewat.

Saya pertama kali kenal dia tiga tahun yang lalu. Awalnya biasa saja. Tidak ada yang menarik dari dia. Tidak terlalu ganteng, tidak begitu pintar, tidak begitu manly. Biasa. Dan, bukan tipe saya.

Setengah semester berjalan tanpa saya sadar, kita makin dekat dan terus dekat. Setiap ada kesempatan, dia menghampiri saya, duduk di sebelah saya, mengajak saya mengobrol, mengajak kabur ke kantin, atau cuma sekedar duduk-duduk di depan kelas. Cuma berdua. Saya dan dia. Saya tidak bisa mengelak bahwa saya memang menikmati saat-saat bersama dia. Tapi, itu saja. Tidak lebih. Dia bukan tipe saya.

Orang-orang mulai membicarakan kami. Saya dan dia. Mereka bilang: ‘Kalian cocok deh kalo lagi berduaan. Kenapa ga jadian?’, ‘Memang kamu nggak suka dia? Kalian udah deket banget. Kapan jadiannya?’, ‘Wah, kayanya ada yang bakalan jadian nih bentar lagi.’. Semuanya mengarah pada kami. Saya dan dia. Tapi, terserah apa kata orang. Dia bukan tipe saya.

Lebih lama lagi. Kami masih dekat. Hubungan kami? Teman. Tapi, kali ini ada yang beda. Saya ingin bersama dia. Saya ingin dia terus menghampiri saya di setiap kesempatan. Saya senang jalan berdua dengan dia walau tanpa tujuan. Saya ingin ke kantin walaupun saya tidak mau jajan apa-apa. Saya cuma ingin bersama dia. Apa saya mulai suka? Ah, dia bukan tipe saya.

Satu semester telah lewat. Semester baru sudah sampai di pertengahan. Tidak ada kemajuan. Masih seperti dulu. Tetapi, ada rasa baru setiap saya bareng dia. Sesuatu yang abstrak, tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata tapi selalu bisa mencerahkan hari-hari terburuk saya hanya dengan dia duduk di sebelah saya, mengajak saya kabur ke kantin, duduk di depan kelas atau hanya berjalan-jalan tanpa tujuan. Ada apa dengan saya? Persetan dengan kalimat ‘dia bukan tipe saya’.

Ada berita di satu sore. Berita yang tidak dapat saya cerna. Begitu cepat diucap oleh teman saya. “He’s no longer available, Jeng.”

Dan, untuk pertama kalinya, saya menangis untuk makhluk bernama pria. Menangis karena kesombongan saya yang tidak mau mengakui dari awal bahwa ya, dia memang bisa membuat saya menyukai dia. Menangis karena saya sebegitu kerasnya pada pendirian ‘dia bukan tipe saya’. Menangis karena sekarang saya tahu, pada akhirnya dia memilih yang lain dan bukan saya.

Lalu, saya menghabiskan puluhan hari dengan hiasan gantungan kantung mata di wajah saya. Dan dia masih begitu perhatian. Masih memperhatikan ada apa dengan saya. Tapi, dia tidak lagi menghampiri saya di setiap kesempatan. Dia menghampiri yang lain. Dia tidak lagi mengajak saya kabur ke kantin. Dia mengajak yang lain. Dia tidak lagi mengajak saya duduk berdua di depan kelas. Dia duduk bersama yang lain. Dia tidak lagi mengajak saya berjalan-jalan tanpa tujuan. Dia berjalan bersama yang lain. Dia masih sama seperti yang dulu… Hanya saja, kali ini bukan saya yang bersama dia.

Walau begitu, tidak jarang, dia dengan bebasnya menunjukkan bahwa dia masih memperhatikan saya. Dan, di saat itulah saya merasakan ada yang melihat saya dari kejauhan dengan pandangan menusuk. Terkadang, saya ingin bicara: “Ya, saya tahu… Kamu pacar dia. But no need to be jealous at me. Toh, pada akhirnya dia milih kamu, bukan milih saya. Dia sayangnya sama kamu, makanya dia sekarang sama kamu, bukan sama saya…”

Ah, sudah 3 tahun lewat.

shitto, saya labil banget!