Is It What I Really Want?

You can call me the luckiest b*tch on earth for living my life. Iyap, kurang beruntung apa coba saya? Punya keluarga yang Alhamdulillah masih lengkap, punya teman-teman dekat yang hebat juga supportive, dan punya kerjaan dengan penghasilan yang lebih dari cukup untuk kehidupan di Jakarta. Almost perfect kecuali masalah jodoh (tapi mari kita kesampingkan dulu masalah jodohnya karena bukan ini yang mau saya omongin sekarang).

Ketika beberapa teman saya tau saya kerja dimana, mereka kaget. Booooooookk! Seorang Ajeng bisa lho kerja di situ!! Aha surprising memang. Ditambah lagi ketika tahu prospek karir yang lagi saya jalanin, nggak sedikit yang setuju bahwa saya cocok banget jadi salah satu tokoh novel metropop: wanita karir, single, (calon) sukses, dan cantik (abaikan poin terakhir. Saya nggak cantik. Tapi saya keren). Ada juga yang pengen ngerasain one day in my shoes. Yeah, you wish! (Hahahaha somboooooong!!!!) Tapi mereka sebenernya nggak tahu apa-apa.

Saya bukannya nggak mau dan nggak bisa bersyukur dengan keadaan saya sekarang. Puji Tuhan banget saya bisa seperti sekarang. Walaupun kadang masih suka ngeluh waktu sadar, damn! I am a corporate slave! Heits! Jangan salah, saya menikmati banget semua proses yang lagi saya jalanain sekarang ini. Tapi nggak jarang ada satu pertanyaan yang berkali-kali muncul di kepala saya: “Is it what I really want?”

Kalau saya dengan gampangnya jawab pertanyaan itu, saya pasti jawab, “NO.” Kenapa? Soalnya yang saya pengen ya kaya dulu aja gitu, hidup santai, kerja jadi penyiar, sambil jadi script writer, kadang-kadang reportase event, penghasilan paling gede di dapet dari nge-MC, dan di sela-selanya saya bisa nulis sambil ngopi cantik. Iya, nulis dan ngopi. Hal yang paling bisa bikin saya ngerasa rileks dan intact. Tapi, nggak mungkin dong saya ngikutin kepengen saya dengan egoisnya sementara orang tua saya juga dag-dig-dug mikirin karir anaknya. Di sisi lain saya juga mikir lah, sampai kapan saya bisa bergantung dengan penghasilan seorang penyiar junior yang belum punya nama di umur saya yang waktu itu sudah 21 tahun. Akhirnya saya memilih kerja kantoran dan hijrah ke Jakarta. For the sake of my future and my parents’ wish.

Tapi, as the time went by, pertanyaan “is it what I really want?” nggak pernah berhasil ilang. Setiap kali pertanyaan itu muncul, saya selalu nyoba untuk menemukan “what I do not want”. Saya bilang ke diri saya sendiri, “Saya nggak mau kerja 9 to 5 duduk di cubicle dan melototin laptop, pakai baju kantoran, dengan sepatu high heels.” Tercapai. Saya nggak harus kerja di kantor 9 to 5, saya bebas pakai baju apa aja ke kantor, dan saya bisa pakai flat shoes or even sneakers! Untungnya juga, saya punya mentor di tahun kedua saya kerja yang bener-bener supportive dan bisa mengerti saya. Saya inget banget mentor saya pernah nanya, “Gimana jeng hampir dua tahun kerja di sini? Enjoy?” Waktu itu saya senyum awkward sambil mikirin jawaban diplomatis dan akhirnya saya jawab, “I would say, enjoy sih, Mbak. Hehehe. Walaupun ya, kadang masih ngerasa nggak sreg dan ngerasa aku lama banget berkembangnya. Mungkin karena bukan bidang yang aku banget kali ya. Tapi enjoy, kok. And I am so happy for being part of your team.” Kemudian mentor gue itu ngeliatin saya lama, mungkin menyelami makna muka saya untuk nyoba baca message tersirat dari apa yang saya omongin. Akhirnya mentor saya nanya lagi, “How old are you?” Saya jawab langsung, “23.” (Yes, waktu saya ngobrol sama mentor saya, umur saya masih 23 tahun). Dia diem lagi dan ngomong, “Jeng, I didn’t know what I really want when I was in your age. Tapi, lo tau nggak? Lo ada di sini di umur 23 tahun, udah jadi pegawai tetap, jenjang karir terbuka lebar di sini. Mungkin sekarang lo masih bingung apa yang lo mau. Atau mungkin lo justru percaya banget lo tau apa yang lo mau. Tapi, lo ngeh nggak? Seberapa banyak lo tau tentang perusahaan ini? Seberapa banyak posisi yang ada di perusahaan ini? Nggak cuma di Indonesia, tapi di Asia Pasifik, even global. Dari sekian banyak posisi yang ada, berapa banyak sih yang udah lo cobain? Marketing, production, sales, channel, b2b, whatelse? Banyak yang belum lo cobain, kan? Atau malah mungkin apa yang lo pengen sebenernya apa yang lo kerjain sekarang?”

Habis itu gantian saya yang diem. She got the point. Maksud saya, bener juga ya? Kenapa saya selalu mikir kalo kerjaan ini nggak saya banget? Siapa tau sebenernya kerjaan ini saya suka, cuma saya udah keburu mikir nggak asik, jadi aja kerjaan ini kesannya dipaksain. Sehabis itu, ketika pertanyaan “Is it what I really want?” muncul, saya selalu mencoba untuk meng-counter dengan pertanyaan “Is it what I don’t want?” Dan jawabannya selalu, “This is what I want for now.”

Saya nggak tahu, sampai kapan saya galau nggak jelas tentang karir kaya gini. Tapi, di satu sisi saya juga ngerasa Tuhan baik banget sama saya. Saking baiknya, setiap kali saya ngerasa down gara-gara kerjaan, setiap kali saya mikir, “It’s time to quit”, setiap kali saya mau update CV untuk nyari kerjaan lain, selalu muncul orang-orang yang dengan positifnya mengajak saya untuk ngeliat dari sudut pandang lain. Hei, kerja di bidang yang nggak sama dengan minat kita bukan berarti kita nggak bisa eksplor minat dan bakat kita kok? Sekarang kalau ditanya, “So, is it what do you really want, Jeng?” I will answer, “I believe that I am so gonna do my job the way I want it.” Fair enough, kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s