I Would Love…

“Masih The Corrs?” Kamu berkomentar begitu memasuki kamarku. Hampir satu bulan ini aku terus-terusan memutar lagu-lagu The Corrs dimulai dari album pertama mereka hingga album terakhir mereka, tidak lupa video konser mereka yang aku download dari internet.

“Masih protes?” jawabku balik bertanya. Kamu tersenyum lalu melemparkan diri di atas kasurku kemudian telungkup dan menatap ke arahku.

“Ada apa dengan kamu dan The Corrs selama sebulan ini sih?” Kamu kembali bertanya. Aku mengerenyitkan dahi. Ini pertama kalinya kamu menanyakan hal ini setelah hampir satu bulan lagu-lagu The Corrs menjadi playlist wajibku. Biasanya kamu akan menanyakan pertanyaan tidak penting atau berkomentar asal seperti, “Apa sih bagusnya The Corrs?” atau “Please, hidup di masa kini dong, Ka.” atau “Vokalisnya cantik ya. Nggak kaya kamu.” dan komentar menyebalkan lainnya.

Aku terdiam sejenak memikirkan jawaban dari pertanyaanmu karena aku sendiri tidak tahu jawaban yang tepat akan kegilaanku akan The Corrs yang muncul kembali tiba-tiba. “Kangen.” Jawabku pendek. Mungkin memang itu jawaban yang paling tepat. Mungkin aku memang bosan mendengarkan lagu-lagu jaman sekarang yang menurutku tidak se-easy-listening dan tidak se-dalam lagu-lagu sewaktu aku masih remaja dulu. Kamu masih melihat ke arahku, tidak berkedip menunggu kelanjutan dari jawabanku. “Udah itu aja.” aku melanjutkan.

“Nggak ada alasan lain?” Kamu berharap aku memberikan jawaban yang lebih panjang. Aku menatapmu lama dan mengangguk yakin. Kamu merubah posisi tidurmu menjadi telentang dan memperhatikan langit-langit kamarku.

“Aku juga.” Kamu tiba-tiba bicara. Aku bingung dengan maksud pernyataanmu. Kemudian kepalamu menengok dan menatapku lagi. “Aku juga kangen.” seolah-olah kamu mengerti bahwa aku tidak dapat menangkap maksud pernyataanmu.

“Sejak kapan Rendra Hendraatmaja bisa kangen sama The Corrs?” Aku semakin bingung.

“Sama kamu.” Jawabmu. Aku langsung tertawa mendengar jawabanmu yang menurutku tidak berkesinambungan dengan topik obrolan kita. Tapi kamu tidak tertawa sedikitpun, dan aku pun salah tingkah. “Maksud kamu? Kan kita tiap hari ketemu.” Jawabku enteng.

“Ya tapi, kamu kangennya sama The Corrs. Nggak sama aku.” Kamu menjawab seperti anak kecil dengan mata bulatmu yang kau bikin seakan mengiba. Aku tidak dapat menahan tawa melihatmu seperti itu. Aku bangkit dari lantai kamarku dan beranjak ke tempat tidur, kemudian ikut berbaring di sebelahmu. “Dasar aneh.” ucapku sambil menyentil hidungmu. “Iya, aneh kaya The Corrs dan lagu-lagu mereka.” Jawabmu menyebalkan. Aku siap membuka mulut untuk protes. Tetapi belum sempat aku melancarkan protesku, kamu melanjutkan kalimatmu, “Saking anehnya nggak bisa ditiru sama band lain. Buktinya, tahun 2013 gini, kamu masih dengerin mereka.” Aku tidak jadi protes. Untuk orang sepertimu, kalimat tadi sudah termasuk standar pujian. Dasar, cowok aneh. Kita terdiam sejenak, sehingga hanya lagu The Corrs yang terdengar dari kamarku.

“I would love to love you like you do me.
Love to love you like you do me.
There’s a pillar in my way you see.
I’d love to love you like you do me.”

Aku melihat ke arahmu dan mendapatimu sedang melihat ke arahku. Kita berdua tersenyum. “I would love to love you like you do me, Riska Hendraatmaja. I love you, Kak.” Aku tertawa mendengar gombalanmu sekaligus getir mendengarnya.

“So I prayed to God that I could give the love you gave to me,
But something’s lying in my way, preventing it to be.”

If only… We’re not siblings…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s