Kacamata Merah dan Bingkai Hitam

Bandung tidak ramah untuk Kacamata Merah beberapa hari ini. Terik di siang hari yang menggoda Kacamata Merah untuk menyudahi puasanya dan menghabiskan segelas ice milk tea di café langganannya.

“Puasa?” Si Bingkai Hitam bertanya pada Kacamata Merah di tengah terik taman kampus.

“Ya. Kenapa?” Jawab si Kacamata Merah singkat seakan tak punya tenaga untuk menjawab.

“Gue heran sama lo. Ngapain lo puasa? Solat aja nggak, kan?” Si Bingkai Hitam bertanya lagi. Kacamata Merah tersenyum. Topik ini tak pernah selesai dibahas jika ia sedang bersama si Bingkai Hitam.

“Ngapain lo ke Gereja di malam Natal? Hari Minggu biasa lo juga ogah ke Gereja bukan?” Kacamata Merah balas bertanya. Si Bingkai Hitam hanya tertawa menanggapinya. Menyadari topik ini memang selalu menarik untuk mereka.

“Agama lo apa sih sebenernya?” Lagi-lagi pertanyaan dari si Bingkai Hitam.

“Agama kita sama, bukan? Sama kaya Dalai Lama.” Kacamata Merah menjawab sambil masih tersenyum.

 ”My religion is very simple. My religion is kindness…”

“Kalau Tuhan? Tuhan lo dan Tuhan gue sama nggak?” Pertanyaan lain dari si Bingkai Hitam.

“Hmmm… Yang jelas gue pengen nikah sama orang Yahudi. Jawaban gue menjawab pertanyaan lo, nggak?” Kali ini Kacamata Merah menjawab dengan pernyataan. Keduanya saling tukar pandang, seakan ada telepati diantara mereka lalu tersenyum. Sepertinya jawaban sudah ditemukan. Setidaknya untuk hari ini. Mungkin esok hari pertanyaan-pertanyaan lain akan muncul. Atau mungkin pertanyaan yang sama akan muncul kembali dan dijawab dengan jawaban berbeda?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s