Luka

Seorang perempuan dan laki-laki muda di dalam sebuah ruang berdinding kuning muda, berdesain minimalis dihiasi sebuah meja dengan beberapa tumpukan kertas, satu sofa panjang dan satu kursi kayu jati. Si perempuan berusia dua puluhan, sementara si lelaki berusia beberapa tahun lebih tua.

“Bagaimana kabarmu hari ini?” Si lelaki membuka obrolan dengan menambahkan senyum ramah di wajahnya. Si perempuan hanya tersenyum kecut dan mengangkat bahu tanda tak yakin. Lelaki tadi sekali lagi tersenyum dan melanjutkan, “Well, silakan dimulai kapanpun kamu siap. Kamu masih punya waktu 90 menit lagi.”

Perempuan itu bernama Kala. Ia menatap lelaki di depannya, seorang psikolog muda yang ia temui sejak minggu kemarin. Bukan psikolog handal memang, namun tarifnya cukup terjangkau bagi Kala yang belum lama bekerja. Kala menilai lelaki ini cukup kaku jika dilihat dari penampilannya. Bukan potongan rambutnya ataupun celana kain yang ia kenakan, tetapi kemeja lengan panjang yang tidak pernah dilipat, bahkan kancing di pergelangan tangannya pun dikancingkan. Rasanya kurang cocok untuk menjadi seorang psikolog. Kala menghela nafas panjang, membuka mulutnya bersiap untuk mengatakan sesuatu namun ia menutupnya lagi. Kali ini lebih rapat dari sebelumnya. Hal itu terus berulang selama hampir lima menit.

Sementara Kala berusaha berbicara, Sion, psikolog muda ini berusaha membaca Kala, perempuan ini terlihat manis walaupun tidak terlalu feminin. Ia tidak memperhatikan penampilannya. Rambutnya diikat asal, mengenakan kaos lengan panjang, celana jeans dan sepatu keds. Apakah ia tidak gerah mengenakan baju lengan panjang di ibu kota? Ataukah dia setertutup itu?

“Am I who I am?” Tiba-tiba Kala bersuara.

“Aku nggak merasa hidup. Ada yang hilang. Bukan, banyak yang hilang. Aku sering bingung. Aku sering marah. Aku… Nggak tau…”

Kala terdiam sejenak lalu melanjutkan, “Aku nggak suka.”

“Nggak suka?” Sion bertanya.

“Iya nggak suka. Nggak suka sama kerjaanku, nggak suka sama personality aku, nggak suka sama teman-temanku. Ya nggak suka.” Kala mengepalkan tangannya erat-erat tanda ia marah. Berbeda dari beberapa menit yang lalu ketika ia terlihat sendu.

“Terlalu banyak perubahan.” Kala bicara lagi. Kali ini suaranya lirih.

“Dan kamu nggak suka perubahan?” Sion bertanya.

“Bukan itu!” Intonasi suara Kala meninggi. “Cuma, terlalu banyak perubahan. Aku nggak siap.” Kali ini suaranya lirih kembali.

“Lalu, kapan kamu siap?” Sion bertanya, suaranya tetap tenang.

Kala menggeleng pelan. “Ntah… Nggak akan pernah siap mungkin. I left so many things behind. Dan parahnya, yang aku tinggalin adalah hal-hal yang bikin aku hidup, sementara yang aku kejar adalah hal-hal yang bikin aku sesak nafas tiap hari.”

Kala terus bercerita. Tentang bagaimana kehidupannya yang sekarang terlihat jauh lebih baik dibanding dua tahun yang lalu justru menyiksanya. Ia bercerita bagaimana ia menangis setiap pagi berharap semuanya adalah mimpi, dan ketika ia bangun ia masih Kala dua tahun yang lalu. Sion mendengarkan kisah Kala sambil menuliskan beberapa catatan pada kertas kosong.

Tidak terasa 90 menit berlalu. “Ada lagi yang mau kamu ceritakan, Kala?”

Kala mengangkat bahu. Matanya menerawang pada sudut-sudut ruangan, berusaha berpikir, kemudian menggeleng pelan. “Ntah, hari ini segitu saja sepertinya.”

Sion masih tersenyum, “Oke, next week jam 10 kita lanjutkan ya.” Kala tersenyum kecut lagi. Mereka bersalaman kemudian Sion mengantar Kala keluar ruangan.

Kala langsung masuk ke dalam mobilnya, sementara Sion kembali ke dalam. Di dalam mobil, kala menarik lengan bajunya dan memperhatikan goresan-goresan bekas luka di pergelangan tangannya. Ada beberapa yang hampir hilang sementara yang lainnya masih baru. Ia menghela nafas lagi dan bergumam, “Yang ini belum bisa diceritakan. Tidak pada siapapun.”

Sementara Sion tidak lagi tersenyum di dalam ruangannya. Ia meremas kertas kosong di atas mejanya dan membuangnya jauh-jauh. Ia bersandar di kursi dan bergumam, “Psikolog. Yayaya. Psikolog. Sok-sok membantu orang seakan tidak punya masalah.” Ia kemudian membuka kancing di pergelangan tangannya dan melipat kemejanya. Terlihat banyak luka sayat di lengannya. “Ya, ya, ya. Lalu pada siapa aku harus bercerita?”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s